Kita sadari bersama serta mengingat semakin melemahnya tatanan moral dan etika dalam kehidupan bermasyarakat, yang ditandai dengan meningkatnya kemiskinan, kelaparan, kebodohan, bulying, tawuran pelajar, korupsi yang merajalela serta maraknya tindakan kekerasan dan penganiayaan di berbagai tempat yang sebagian dipengaruhi oleh masuknya virus budaya luar pada tatanan kehidupan kebangsaan yang tidak selaras dengan nilai-nilai luhur bangsa Nusantara serta adat budaya lokal maka diperlukan upaya nyata untuk membangun kembali fondasi budaya yang kuat, berkarakter, dan beradab yang dijiwai manunggalnya keimanan dan kemanusiaan demi terwujudnya cita-cita luhur para pejuang kusuma bangsa yang telah berkorban jiwa raga, harta benda serta nyawa demi kebahagiaan anak cucunya.

Dalam rangka menjawab tantangan tersebut, Sistem Pedoman Hidup Tri Falaq Tunggallistik menekankan penguatan dan pengembangan budaya sebagai berikut:

  • Pengembangan budaya berpikir kritis dan kreatif, guna melahirkan ilmuwan, intelektual, dan pemikir baru yang mampu memberikan solusi bagi kemajuan bangsa.
  • Pengembangan budaya kerja keras, disiplin, dan produktif, sebagai landasan dalam mewujudkan kesejahteraan individu maupun masyarakat.
  • Pengembangan budaya religius, yaitu rajin beribadah, gemar beramal, serta menjunjung tinggi nilai-nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari.
  • Pengembangan budaya ketahanan diri, meliputi kemampuan bela diri, menjaga keharmonisan rumah tangga, serta menumbuhkan semangat bela bangsa.
  • Pengembangan budaya kepemimpinan yang berintegritas, berorientasi pada pengabdian, serta menolak segala bentuk mentalitas “jongos” dan praktik dehumanisasi (pembinatangan manusia).
  • Penumbuhan budaya sistem politik, atau organisasi yang memberikan ruang serta posisi, penghargaan, dan jabatan tugas dan tanggungjawab kepada ahlinya berdasarkan kemampuan, prestasi, kompetensi, dan kinerja individu, bukan atas dasar kekayaan, uang, emas, jabatan, keturunan, atau koneksi KKN, sehingga kepemimpinan dan peran pengendalian kehidupan masyarakat dipegang oleh individu yang memiliki kapasitas, integritas, moralitas tinggi dan tanggung jawab bukan di pegang oleh penguasa atau pejabat yang tidak punya kapasitas keilmuan tidak sesuai bidangnya, tidak berintegritas, tak bermoral yang hanya memikirkan diri pribadi, kelompok partainya sendiri karena menjadi pejabat, penguasa di pilih dengan cara voting dan undian.
  • Perlu ditinggalkan budaya ikut-ikutan, sikap sok tahu, iri, dengki, sirik dendam, dan keengganan untuk malas belajar serta malas berfikir, dengan mendorong membangun kesetiaan, berbakti, berbudi pekerti adab sopan santun, keterbukaan berpikir kritis, kerendahan hati, serta semangat untuk terus bertanya dan memperbaiki diri dengan tetap mengedepankan manunggalnya keimanan dan kemanusiaan.