Ide dan gagasan tercetusnya perhitungan tahun Gajah Mada oleh Wardi Jien KMM, SH,MM di dasari oleh fenomena zaman, di era modern, hampir semua hal mengalami standardisasi, termasuk cara kita menghitung waktu. Penggunaan kalender universal memang memberikan efisiensi teknis, namun secara halus dan tidak kentara, yang memicu penurunan nilai kesadaran sejarah lokal. Kita perlahan menjauh dari akar identitas kolektif kita sendiri sebagai bangsa Nusantara yang akhirnya melemahkan jatidiri bangsa sendiri.

 

  1. Identitas Jatidiri bangsa adalah hal penting dan mendesak yang harus diselesaikan di Tengah Penyeragaman Global.

Di era modernisasi, hampir semua hal mengalami standardisasi, termasuk cara kita menghitung waktu. Penggunaan kalender universal memang memberikan efisiensi teknis, namun secara halus dan perlahan namun pasti, hal tersebut memicu penurunan nilai kesadaran sejarah lokal. Kita sebagai bangsa perlahan menjauh dari akar identitas kolektif kita sendiri.

Padahal, setiap peradaban besar memiliki “tanda pengenal” unik contohnya sistem tata kelola, bahasa, aksara, falsafah, azas, pola hidup, seni budaya hingga cara memahami semesta melalui waktu yang disebut perhitungan tahun, bulan dan jam. Dalam perspektif ilmu pengetahuan yang mempelajari manusia secara holistik (menyeluruh), mencakup aspek biologis, evolusi fisik, sosial, budaya, dan bahasa (Antropologi), Budaya dan ilmu pengetahuan yang mempelajari struktur tingkat status masyarakat, proses sirkulasi hubungan timbal balik setiap tingkatan status masyarakat, termasuk perubahan yang terjadi di masyarakat, dan interaksi manusia dalam masyarakat (Ilmu Sosiologi), keanekaragaman dalam kerangka bhineka tunggal ika ini adalah aset. Keunikan ini bukan untuk memisahkan, melainkan untuk memperkaya dinamika manusia agar dapat dikenali dan saling mengenal. Dengan perbedaan itu kita belajar, saling melengkapi,tolong menolong, berkeja sama dalam membentuk jatidiri bangsa yang akhirnya berkembang sebagai subjek peradaban, bukan sekedar objek.

Secara keyakinan beragama, dan hubungan antara Ilahi dengan manusia atau alam semesta serta dijiwai keimanan dan kemanusiaan dapat di hikmahi bahwa, keragaman, perbedaan adalah rahmat dari Tuhan Yang Maha ESa bukan kehendak makhluk. Sebagaimana pesan dalam Al-Qur’an mengenai prinsip lita’arafu bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa agar saling mengenal. Maka, menjaga keunikan budaya bukan hanya tanggung jawab masyarakat, melainkan sebuah amanah spiritual.

  1. Penanggalan sebagai alat, perangkat, atau sarana yang digunakan untuk mengerjakan, mengukur, atau menghasilkan sebuah Jatidiri bangsa.

Mari kita berfikir dengan jernih dan memahami bersama-sama serta melihat penanggalan melampaui fungsinya sebagai alat biasa dalam menghitung hari, bulan dan tahun.  Mari kita melihat lebih jauh bahwa penanggalan adalah salah satu alat, perangkat, atau sarana yang digunakan untuk mengerjakan, mengukur, atau menghasilkan sebuah Jatidiri bangsa. Melalui “Tahun Gajah Mada”, sebagai tahun Nusantara saya mengajak dan menawarkan kedaulatan berkaitan erat dengan kecerdasan dan keluhuran serta kemampuan sebuah bangsa untuk menentukan titik awal sejarahnya sendiri.

 

Gagasan ini bertumpu pada beberapa pondasi utama:

  • Bahasa dan Aksara/huruf: Sebagai perwujudan pola proses mental atau aktivitas berpikir manusia dalam memperoleh pengetahuan dan pemahaman peradaban sebuah bangsa.
  • Sistem Penanggalan adalah sebagai hasil proses perenungan untuk meninjau kembali, dan proses dalam menguraikan, menyelidiki dengan teliti serta cerdas, agar lebih mudah dipahami, ditelaah, dan diambil kesimpulan atau maknanya secara mendalam dengan berdasarkan pengalaman, dan tindakan, atau pembelajaran masa lalu untuk memahami makna, mengevaluasi diri, dan memperbaiki tindakan di masa depan yang mengacu pada kedekatan masyarakat dengan siklus alam, dan kedaulatan historis sebuah bangsa.
  • ilmu alam yang mempelajari benda langit (bintang, planet, komet, galaksi) dan fenomena di luar atmosfer Bumi dan cabang ilmu (astronomi/fisika) yang mempelajari asal-usul, struktur, evolusi, dan nasib akhir alam semesta secara keseluruhan: perwujudan atau bentuk nyata dari sesuatu yang sebelumnya tidak terlihat, seperti perasaan, pendapat, pikiran, atau impian serta kecerdasan leluhur dalam membaca keteraturan alam demi kemaslahatan anak cucunya.
  • Budaya fisik yang terlihat : seni, ilmu, dan praktik merancang serta membangun struktur bangunan dan lingkungan sebuah peradaban dan perwujudan penampilan, gaya hidup fisik yang menjadi simbol nilai-nilai serta bentuk, tingkah laku dalam menyesuaikan diri dan lingkungan alam semesta.
  1. Dampak, konsekuensi, atau tindak lanjut jangka panjang yang timbul dari keputusan atau rencana strategis dan Harapan ke Depan

Penyusunan ulang kembali, atau pembangunan kembali kejayaan peradaban bangsa seperti semula dan sistem waktu berbasis sejarah Nusantara memiliki dampak dan akibat langsung yang sangat besar terhadap psikologi mental, moral dan akhlak serta tingkah laku dalam mempertahankan sebuah peradaban. Dengan memiliki penanda waktu yang berakar pada pemikiran ide dan gagasan bersama-sama sebuah bangsa, dapat memperkuat posisi Bangsa Nusantara sebagai penentu dalam membentuk dan mempengaruhi peradaban dunia, bukan sekadar pengikut atau peniru peradaban bangsa lain di dunia.

Sebagai pencetus perhitungan penanggalan Nusantara yang diberi nama Tahun Gajah Mada saya berharap karya ini dapat menjadi acuan akademik sekaligus pijakan konseptual dalam merumuskan kembali kedaulatan peradaban Nusantara. Harapan karya ini dapat menjadi pengingat bahwa untuk memajukan sebuah bangsa jangan sampai menghilangkan identitas martabat, harga diri sebuah bangsa. Seharusnya dengan mengenal jatidiri bangsa sendiri, kita memiliki kemampuan dan kekuatan yang penuh percaya diri yang lebih besar untuk melangkah menuju masa depan yang gemilang dan menjadi mercusuar dunia.

Poin-Poin Intisari (Kesimpulan):

  1. Identitas adalah Pembeda: Identitas lahir dari perbedaan. Jika semua hal dibuat seragam tanpa keberagaman baik dalam bahasa, tulisan, maupun cara memahami waktu, maka pertukaran ilmu antar peradaban akan menjadi lemah karena tidak ada keunikan yang bisa dipelajari homogen ke heterogen atau sederhana ke rumit, dinamika pertukaran pengetahuan antar peradaban akan melemah. Kita harus fahami bahwa Keberagaman adalah sumber kekuatan pertukaran ilmu antar peradaban. Jika tidak ada proses “membedakan” (semua dibuat seragam/homogen), maka: Keunikan tiap peradaban hilang dan tidak bisa dikenali dan saling mengenal antara bangsa satu dengan bangsa lainnya.

 

  1. Hubungan Kedaulatan: Penanggalan Nusantara “Tahun Gajah Mada” adalah simbol pembauran dan penyatuan wilayah serta kedaulatan untuk menentukan narasi keunikan, keluhuran sejarah bangsa sendiri.

 

  1. Ketahanan Budaya: Penguatan identitas harkat dan martabat jati diri bangsa harus diperkuat dan dipertahankan serta ditingkatkan agar tetap tegak di tengah arus dan pengaruh serta pemaksaan secara halus dan perlahan-lahan namun pasti oleh tindakan pihak-pihak dalam penyeragaman global.

Peradaban bangsa manusia di seluruh dunia diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa dengan keunikan masing-masing sebagai identitas yang membedakan satu entitas bangsa antara bangsa satu dengan bangsa lainnya. Perbedaan ini mencakup sistem tata kelola, tingkah laku, adab sopan santun, bahasa,aksara,simbol, penanggalan, pakaian, hingga ilmu pehitungan bintang, pertanian, peternakan, dan dalam pemahaman lainnya.

  1. Unsur-Unsur Pembeda Peradaban

Setiap bangsa mengembangkan  nilai-nilai, tata kelola kebangsaan dan strategi dan pedoman hidup tingkah laku sehari-hari  yang unik sebagai bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan sejarah sebuah bangsa dapat kita ambil contoh sebagai berikut:

  • Sistem Aksara & Bahasa: Huruf (seperti Hanzi bangsa jepang, Huruf Jawa, Huruf Latin, Huruf Arab, Huruf Cina, huruf india dan masih banyak lagi diseluruh dunia) bukan sekadar alat komunikasi, melainkan cara berfikir sebuah keluhuran harga diri, harkat dan martabat peradaban sebuah bangsa hasil proses logika dan rasa.
  • Sistem Penanggalan & Perhitungan: Bangsa-bangsa seluruh dunia pada umumnya memiliki cara menghitung waktu (seperti Kalender masehi, Kalender Hijriah, Saka, atau Imlek). Ini sering kali berkaitan dengan siklus alam, pertanian, atau peristiwa besar perjalanan sebagai pengingat keluhuran sebuah bangsa atas jasa para leluhurnya.
  • Astronomi & Metafisika: Pengetahuan seperti Shio di Tiongkok atau Pranata Mangsa di Nusantara menunjukkan bagaimana manusia membaca tanda-tanda alam dan bintang untuk menyelaraskan kehidupan dengan alam semesta.
  • Seni berpakaian & Arsitektur bangunan: Merupakan ekspresi, perwujudan paling nyata yang mencerminkan harkat dan martabat, norma kesopanan, dan kearifan lokal dalam menghadapi iklim dan cuaca.

 

 

  1. Mengapa Harus Ada Pembeda?

Perbedaan ini ada bukan untuk memisahkan, melainkan untuk fungsi-fungsi berikut:

  • Identitas (Jati Diri bangsa ): Agar sebuah bangsa memiliki “jangkar” sejarah yang kokoh sehingga tidak mudah terombang-ambing oleh arus peradaban bangsa lain.
  • Sifat saling melengkapi antara dua hal atau lebih yang berbeda untuk membentuk satu kesatuan yang utuh: Keberagaman menciptakan kekayaan wawasan dan sudut pandang yang tidak ditemukan di satu bangsa, mungkin telah dipecahkan oleh bangsa lain.
  • Keteraturan Kehidupan keseharian : Dengan adanya pengelompokan berdasarkan budaya dan bahasa serta tingkat status budaya bangsa, manusia lebih mudah mengelola kepatuhan dalam mengorganisir diri dalam struktur kepemimpinan dan sistem hukum, adat istiadat yang sesuai dengan karakter serta adat budaya sendiri.
  1. Landasan Firman (Perspektif Teologis)

Dalam ajaran agama, perbedaan ini diakui sebagai ketetapan Tuhan agar manusia saling mengenal (Lita’arafu). Salah satu rujukan yang paling sering dikutip adalah dalam Al-Qur’an, Surat Al-Hujurat ayat 13:

Yā ayyuhan-nāsu innā khalaqnākum min żakariw wa unṡā wa ja‘alnākum syu‘ūbaw wa qabā’ila lita‘ārafū, inna akramakum ‘indallāhi atqākum, innallāha ‘alīmun khabīr(un).

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal…”

Dalam ayat lain, perbedaan bahasa dan warna kulit juga disebut sebagai tanda-tanda kebesaran Tuhan (QS. Ar-Rum: 22).

Wa min āyātihī khalqus-samāwāti wal-arḍi wakhtilāfu alsinatikum wa alwānikum, inna fī żālika la`āyātil lil-‘ālimīn.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah penciptaan langit dan bumi, perbedaan bahasamu dan warna kulitmu. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui

Hal ini menunjukkan bahwa keragaman sistem budaya serta keluhuran adat istiadat peradaban sebuah bangsa (termasuk aksara, kalender, dan tradisi) adalah anugerah rahmat dari Tuhan Yang Maha Esa yang harus dijaga, wajib di junjung tinggi dan dipertahankan serta di lestarikan keberadaannya.