• Aksara Sanskerta / Hanacaraka (Sebagai fondasi filosofis lokal).
  • Aksara Arab (Menyerap elemen fungsional seperti huruf Dzal, Fa, serta sistem Harokat/tanda baca).
  • Aksara Latin Modern (Mengintegrasikan kebutuhan fonetik global seperti huruf V, Q, X, dan sejenisnya).

Sebuah Sikap Etis Peradaban:

Penemu  memilih untuk tidak gegabah atau lancang menamakannya sebagai Aksara Indonesia. Penemu sadar diri bahwa kami bukan pejabat struktural pemerintahan yang memiliki kewenangan konstitusional untuk menetapkan hukum negara.

Oleh karena itu, kami menamakannya Aksara Mudareka Nusantara sebuah manifesto pencarian identitas diri bagi generasi yang menolak untuk malu di hadapan peradaban asing. Akasara Mudareka Nusantara adalah bentuk ikhtiar budaya untuk membangkitkan kembali memori kolektif kejayaan nenek moyang kita: peradaban agung Majapahit, Sunda wiwitan dan Sriwijaya. Sebuah peradaban tinggi yang dahulu disegani dunia; peradaban yang berwujud dalam tatanan hidup yang adil, makmur, gemah ripah loh jinawi, toto titi tentrem raharjo, murah sandang murah pangan.

Pilihan nama ini sengaja dilepaskan dari sekat-sekat lokalitas sempit seperti Aksara Jawa, Aksara Sunda, Aksara Mataram, Aksara Batak, Akasara Sulawesi, Aksara Papua,  Aksara Bali ataupun Aksara Hindia, demi memayungi semangat persatuan yang lebih luas. Dengan maksud dan tujuan bahwa Aksara Mudareka Nusantara bukan milik satu suku saja dan belum pernah dimiliki bangsa sebelumnya alias orioginil teks baru dan murni dan juga memiliki hak cipta Nomor HAKI:047721 tahun 2010 di Indonesia. Dengan harapan aksara ini akan menjadi pelengkap kekurangan kita sebagai bangsa.

Bagaimanakah asal-usul, anatomi filosofis, dan arti kata dari nama “Mudareka” itu sendiri? Pembahasan ilmiah tersebut akan dikupas secara tuntas pada bagian selanjutnya di bawah ini.