Konsep Sistem Saraf Budaya merupakan pendekatan konseptual yang memandang budaya kolektif dalam organisasi, masyarakat, maupun institusi sebagai suatu sistem hidup yang berfungsi mengatur aliran informasi, nilai, emosi, dan keterlibatan seluruh anggota masyarakat secara dinamis. Berbeda dengan model organisasi konvensional yang bersifat hierarkis dan linear, sistem ini menempatkan manusia, konteks budaya, dan kualitas kepemimpinan sebagai pusat pengendali utama dalam menjaga stabilitas, kepercayaan, dan keberlangsungan organisasi. Analogi sistem saraf biologis digunakan untuk menjelaskan bagaimana budaya bekerja sebagai mekanisme penghubung yang memproses sinyal sosial, emosional, dan informasi guna menciptakan keseimbangan (homeostasis) dalam kehidupan kolektif.

Sistem saraf budaya” adalah sebuah konsep yang memperlakukan budaya kolektif suatu komunitas atau organisasi sebagai entitas hidup dan peka yang mengatur aliran informasi, kepercayaan, dan keterlibatan, bukan sekadar hierarki informasi dari atas ke bawah. Konsep ini menekankan bahwa para pemimpin harus berfungsi sebagai mekanisme pengaturan utama, membentuk “iklim” organisasi melalui tindakan yang konsisten dan empatik, mirip dengan bagaimana sistem saraf biologis memproses sinyal untuk mengelola homeostasis. Agar informasi mengalir tanpa halusinasi, informasi harus bersifat analog, kontekstual, data, dan yang berpusat pada manusia, menghindari “halusinasi”  ( subjektif ) yang terlepas (persepsi palsu/pemalsuan data) yang umum terjadi pada AI yang sepenuhnya algoritmik. 

Sistem Saraf Budaya sebagai Fondasi Peradaban Indonesia Masa Depan

Pendahuluan

Di tengah perubahan dunia yang semakin kompleks akibat disrupsi teknologi, krisis moral, polarisasi sosial, dan dominasi sistem algoritmik, bangsa Nusantara, membutuhkan paradigma kepemimpinan baru yang tidak hanya cerdas secara teknokratis, tetapi juga matang secara budaya, spiritual, dan kemanusiaan. Peradaban modern tidak lagi cukup dibangun hanya dengan kekuatan ekonomi dan teknologi, melainkan harus ditopang oleh sistem nilai yang mampu menjaga keseimbangan antara manusia, budaya, informasi, dan kehidupan sosial.

Dalam konteks tersebut, lahirlah konsep Sistem Saraf Budaya, yaitu suatu pendekatan ilmiah dan filosofis yang memandang budaya kolektif bangsa sebagai sistem hidup yang bekerja layaknya sistem saraf biologis manusia. Sistem ini mengatur aliran informasi, nilai, emosi, kesadaran sosial, dan keterlibatan masyarakat secara dinamis untuk menjaga stabilitas, kepercayaan, serta keberlangsungan peradaban.

ini menegaskan bahwa pemimpin Nusantara bukan sekadar penguasa administratif, melainkan pusat regulasi moral dan budaya yang bertugas menjaga keseimbangan sosial, kejernihan informasi, dan arah peradaban bangsa.

FILOSOFI DASAR SISTEM SARAF BUDAYA

Sistem Saraf Budaya memandang masyarakat sebagai organisme hidup yang saling terhubung melalui nilai, bahasa, tradisi, emosi, dan kesadaran kolektif. Dalam sistem ini:

  • Informasi bukan sekadar data, tetapi energi sosial yang membentuk persepsi dan tindakan masyarakat.
  • Budaya bukan simbol seremonial, melainkan mekanisme hidup yang menjaga identitas dan kohesi bangsa.
  • Kepemimpinan bukan dominasi kekuasaan, melainkan kemampuan mengatur ritme, emosi, dan arah kolektif masyarakat.
  • Teknologi bukan pengganti manusia, melainkan alat bantu yang harus tunduk pada nilai kemanusiaan dan etika kebangsaan.

Sebagaimana sistem saraf biologis menjaga keseimbangan tubuh (homeostasis), Sistem Saraf Budaya menjaga keseimbangan bangsa melalui keterhubungan antara rakyat, nilai, hukum, budaya, dan kepemimpinan.

KRISIS PERADABAN DIGITAL DAN HALUSINASI INFORMASI

Era digital telah melahirkan percepatan komunikasi yang luar biasa, namun juga menciptakan ancaman baru berupa:

  • Manipulasi informasi,
  • Polarisasi sosial,
  • Kehilangan makna budaya,
  • Disonansi emosional,
  • Dan “halusinasi sosial” akibat dominasi algoritma.

Halusinasi informasi terjadi ketika data dipisahkan dari konteks manusia, moralitas, dan kenyataan sosial. Sistem algoritmik yang hanya mengejar kecepatan dan efisiensi berpotensi menciptakan realitas palsu yang diterima masyarakat sebagai kebenaran.

Dalam kondisi ini, bangsa dapat kehilangan arah karena keputusan tidak lagi didasarkan pada kebijaksanaan, melainkan pada manipulasi persepsi.

Oleh sebab itu, Sistem Saraf Budaya menegaskan bahwa: Teknologi tanpa budaya akan menghasilkan kekuasaan tanpa nurani. Informasi tanpa nilai akan melahirkan kecerdasan tanpa kebijaksanaan.

 PEMIMPIN NUSANTARA SEBAGAI PUSAT REGULASI BUDAYA

Pemimpin Nusantara adalah pengatur keseimbangan sosial dan penjaga kejernihan kesadaran bangsa. Kepemimpinan tidak hanya diukur dari kemampuan memerintah, tetapi dari kemampuan menciptakan rasa aman, kepercayaan, dan keterhubungan sosial.

Dalam Sistem Saraf Budaya, seorang pemimpin memiliki lima fungsi utama:

  1. Pengatur Stabilitas Emosional Bangsa

Pemimpin harus mampu menjaga ketenangan keyamanan di tengah tekanan, karena kondisi psikologis pemimpin akan memengaruhi keadaan budaya organisasi dan masyarakat secara luas.

  1. Penjaga Kejujuran Informasi

Pemimpin wajib membangun transparansi, menyampaikan fakta secara terbuka, serta menghindari manipulasi data dan propaganda yang menyesatkan masyarakat.

  1. Penghubung Nilai dan Teknologi

Pemimpin harus memastikan bahwa perkembangan AI, digitalisasi, dan teknologi tetap berlandaskan etika, budaya, dan kemanusiaan.

  1. Pemelihara Dialog dan Gotong Royong

Perbedaan pendapat bukan ancaman, melainkan bagian dari proses hidup masyarakat yang sehat. Pemimpin wajib membuka ruang dialog, kritik, dan musyawarah.

  1. Penjaga Identitas Peradaban Nusantara

Kemajuan tidak boleh menghilangkan akar budaya bangsa. Nilai adat, Pancasila, spiritualitas, dan gotong royong harus menjadi fondasi pembangunan nasional dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika.

PRINSIP-PRINSIP SISTEM SARAF BUDAYA

  1. Informasi Harus Berpusat pada Manusia

Informasi harus disampaikan secara kontekstual, jujur, dan mempertimbangkan dampak sosial serta kondisi emosional masyarakat.

  1. Transparansi Lebih Penting daripada Kecepatan

Keputusan yang lambat namun benar lebih bernilai daripada keputusan cepat yang menyesatkan.

  1. Budaya Dibangun oleh Tindakan Kecil yang Konsisten

Budaya bangsa tidak dibentuk oleh slogan, tetapi oleh perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari dalam meberikan tauladan bagi generai selanjutnya.

  1. Teknologi Harus Dikendalikan oleh Etika

AI dan sistem digital harus mendukung kebijaksanaan manusia, bukan menggantikan nurani manusia.

  1. Keberagaman adalah Kekuatan Sistem

Nusantara dibangun dari ribuan budaya, bahasa, dan tradisi. Keseragaman yang dipaksakan hanya akan melemahkan daya hidup bangsa.

VISI PERADABAN NUSANTARA MASA DEPAN

Konse ini memproyeksikan lahirnya Peradaban Nusantara Baru, yaitu peradaban yang:

  • Maju secara teknologi,
  • kuat secara budaya,
  • Adil secara sosial,
  • Berdaulat secara informasi,
  • Dan berketuhanan secara moral.

Peradaban ini tidak dibangun atas dasar dominasi kekuasaan, melainkan atas keseimbangan antara ilmu pengetahuan, budaya, spiritualitas, dan kemanusiaan.

Indonesia memiliki modal besar untuk memimpin paradigma dunia baru karena Nusantara sejak dahulu dibangun atas nilai:

  • Gotong royong,
  • Musyawarah,
  • Keseimbangan alam,
  • Pnghormatan terhadap keberagaman,
  • Dan spiritualitas kehidupan.

Nilai-nilai tersebut merupakan fondasi alami dari Sistem Saraf Budaya.

PENUTUP

Konsep Sistem Saraf Budaya adalah seruan kebangkitan kepemimpinan Nusantara yang berlandaskan ilmu pengetahuan, budaya, dan nilai kemanusiaan. Bangsa Nusantara tidak boleh menjadi sekadar pengguna teknologi global, tetapi harus menjadi pencipta arah peradaban dunia yang lebih manusiawi, beretika, dan berkeadilan.

Pemimpin Nusantara masa depan adalah mereka yang mampu:

  • Menjaga kejernihan informasi,
  • Mengendalikan ego kekuasaan,
  • Mempersatukan keberagaman,
  • Memelihara budaya bangsa,
  • Dan menempatkan manusia sebagai pusat peradaban.

Karena pada akhirnya:

Bangsa yang kehilangan budaya akan kehilangan arah.
Bangsa yang kehilangan kejujuran informasi akan kehilangan masa depan.
Dan bangsa yang kehilangan kemanusiaan akan kehilangan peradabannya sendiri.

Perjalanan kehidupan manusia pada masa kini menunjukkan gejala kemunduran yang cukup memprihatinkan, terutama dalam aspek akhlak, moral, dan kesadaran spiritual. Berbagai peristiwa dan fenomena sosial yang terjadi—baik berupa bencana alam, ketidakadilan, penindasan, maupun penyimpangan perilaku—dapat dipahami sebagai tanda adanya ketidakseimbangan dalam tatanan kehidupan manusia, baik dalam hubungan dengan sesama maupun dengan Sang Pencipta.

Manusia pada hakikatnya diciptakan dengan tujuan yang luhur, yaitu untuk beribadah dan mengabdi kepada Allah SWT. Namun dalam realitasnya, tidak sedikit manusia yang justru menjauh dari tujuan tersebut, terjebak dalam kehidupan yang mengedepankan hawa nafsu, kepentingan duniawi, serta kebebasan tanpa batas yang tidak lagi berpijak pada nilai kebenaran. Akibatnya, lahirlah berbagai bentuk perilaku yang tidak hanya merusak tatanan sosial, tetapi juga mengikis nilai kemanusiaan itu sendiri.

Kondisi ini semakin diperparah dengan berkembangnya berbagai sistem pemikiran dan ideologi yang cenderung mengagungkan aspek material dan rasional semata, tanpa diimbangi oleh dimensi spiritual dan keimanan. Dalam praktiknya, sebagian dari sistem tersebut sering kali bertentangan dengan nilai-nilai ilahiah, karena lebih menitikberatkan pada kepentingan kekuasaan, kekayaan, dan kenikmatan duniawi.

Padahal, keseimbangan hidup manusia hanya dapat terwujud apabila terdapat harmonisasi antara kebutuhan lahiriah dan batiniah, antara akal dan iman, serta antara kebebasan dan tanggung jawab. Kehidupan yang hanya berorientasi pada materi tanpa dibimbing oleh nilai-nilai ketuhanan pada akhirnya akan membawa manusia pada kehampaan, ketidakadilan, dan kehancuran moral.

Salah satu fenomena yang tampak nyata adalah kecenderungan manusia untuk mengutamakan kekuatan, kekuasaan, dan kekayaan sebagai ukuran keberhasilan, sementara kebenaran dan keadilan sering kali diabaikan. Dalam kondisi seperti ini, tidak mengherankan apabila muncul kepemimpinan yang lemah secara moral, yang pada akhirnya menjerumuskan masyarakat ke dalam berbagai bentuk kesengsaraan dan ketidakpastian.

Padahal, dalam ajaran ilahiah ditegaskan bahwa kebenaran merupakan sumber utama dari kekuatan dan keberhasilan. Kebenaran yang dilandasi oleh keimanan akan melahirkan keadilan, dan keadilan akan melahirkan kesejahteraan yang berkelanjutan.

Lebih jauh lagi, ketergantungan yang berlebihan terhadap kekuatan luar tanpa diimbangi dengan kemandirian justru akan melemahkan jati diri suatu bangsa. Oleh karena itu, diperlukan suatu paradigma kehidupan yang mampu menumbuhkan kemandirian, kebersamaan, serta kesadaran bahwa hanya kepada Allah SWT-lah manusia menggantungkan segala harapan.

Berdasarkan kondisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa krisis yang terjadi saat ini bukan semata-mata krisis sosial atau ekonomi, melainkan krisis nilai dan krisis spiritual yang mendasar. Oleh karena itu, diperlukan suatu upaya nyata untuk membangun kembali sistem kehidupan yang berlandaskan pada kebenaran, keimanan, dan kemanusiaan. Dalam konteks inilah Sistem Pedoman Hidup Tri Falaq Tunggallistik dihadirkan sebagai salah satu alternatif pemikiran yang diharapkan mampu menjadi jalan tengah—sebagai penyeimbang antara kehidupan duniawi dan ukhrawi, antara rasionalitas dan spiritualitas, serta antara kebebasan dan tanggung jawab—demi terwujudnya kehidupan manusia yang adil, beradab, dan diridhai oleh Allah SWT

 

Dengan menyebut nama Allah Swt, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang—sumber segala kebenaran, asal segala ilmu, dan tujuan akhir seluruh perjalanan kehidupan.

Sesungguhnya kehidupan manusia bukan sekadar perjalanan jasmani, melainkan perjalanan makna—dari ketidaktahuan menuju pengetahuan, dari kegelapan menuju cahaya, dari kelemahan menuju kesempurnaan. Dalam perjalanan itu, manusia diuji: apakah ia mampu mengenal dirinya, mengenal Tuhannya, dan memahami tujuan penciptaannya.

Namun realitas zaman menunjukkan bahwa manusia sering terjebak dalam kesombongan akal, diperbudak oleh hawa nafsu, serta tersesat dalam sistem yang dibangunnya sendiri tanpa pijakan nilai yang benar. Ilmu berkembang, tetapi kehilangan arah. Kekuasaan berjalan, tetapi tanpa kebijaksanaan. Sistem dibangun, tetapi kehilangan jiwa.

Inilah krisis sesungguhnya: krisis moral, krisis makna, dan krisis arah peradaban.

Maka dari itu, perubahan yang dibutuhkan bukan sekadar perbaikan permukaan, melainkan revolusi pemikiran—perubahan cara manusia memahami kehidupan, ilmu, kekuasaan, dan tujuan keberadaannya.

Pedoman Hidup Tri Falaq Tunggallistik hadir sebagai ikhtiar untuk mengembalikan manusia kepada fitrahnya. Ia bukan sekadar konsep, melainkan kesadaran; bukan sekadar teori, melainkan laku; bukan sekadar ajaran, melainkan jalan hidup.

Hakikat dari sistem ini adalah penyatuan—antara iman dan ilmu, antara akal dan hati, antara individu dan masyarakat, serta antara nilai dan tindakan. Sebab kebenaran sejati tidak pernah terputus, melainkan mengalir dalam setiap zaman, menunggu untuk dipahami dan diamalkan.

Dalam konteks kehidupan berbangsa, nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila merupakan cerminan kebijaksanaan yang lahir dari jiwa dan budaya bangsa Indonesia. Namun nilai tersebut tidak akan hidup jika hanya diucapkan, tidak akan berdaya jika hanya dihafalkan, dan tidak akan bermakna jika tidak diwujudkan dalam tindakan nyata.

Oleh karena itu, Pedoman Hidup Tri Falaq Tunggallistik berfungsi sebagai jembatan—yang menghubungkan nilai dengan praktik, prinsip dengan kenyataan, serta cita-cita dengan perwujudan kehidupan sehari-hari.

Kami menegaskan bahwa peradaban yang berkeadilan hanya dapat dibangun di atas fondasi:

  • Ketuhanan sebagai sumber moral dan arah kehidupan
  • Kemanusiaan sebagai ukuran setiap kebijakan
  • Persatuan sebagai kekuatan bangsa
  • Kerakyatan sebagai cara bermusyawarah yang bijaksana
  • Keadilan sosial sebagai tujuan akhir perjuangan

Nilai-nilai ini bukan sekadar prinsip, melainkan kewajiban yang harus diwujudkan dalam seluruh aspek kehidupan—pendidikan, ekonomi, politik, kepemimpinan, serta pertahanan dan keamanan.

Kami menolak segala bentuk kehidupan yang menjauh dari nilai tersebut—formalisme tanpa makna, kekuasaan tanpa tanggung jawab, ilmu tanpa etika, serta kehidupan yang hanya mengejar kepentingan sesaat.

Kami menyerukan perubahan nyata:

membangun manusia yang beriman dan berilmu,
melahirkan pemimpin yang berintegritas dan visioner,
menciptakan sistem yang adil dan berpihak pada kemanusiaan,
serta menghidupkan kembali nilai moral dalam setiap tindakan.

Perubahan ini harus ditempuh dengan cara yang bermartabat—melalui kesadaran, pendidikan, keteladanan, dan kebersamaan.

Wahai manusia, ketahuilah bahwa kemenangan sejati bukanlah mengalahkan orang lain, melainkan menaklukkan diri sendiri—mengendalikan hawa nafsu, menegakkan keadilan, dan menghidupkan kebenaran dalam setiap langkah kehidupan.

Jika nilai-nilai Pancasila dan Pedoman Hidup Tri Falaq Tunggallistik dijalankan dengan sungguh-sungguh, maka akan lahir suatu tatanan kehidupan yang berkeadilan, menuju kemakmuran bersama, serta membentuk bangsa yang berbudi luhur, bermoral tinggi, dan beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa, Pencipta langit dan seluruh isinya.

Akhirnya, marilah kita membuka hati, menajamkan akal, dan meluruskan niat. Ambillah apa yang benar meskipun berat, dan tinggalkan apa yang salah meskipun mudah.

Karena perubahan besar selalu dimulai dari kesadaran kecil—
dan peradaban besar lahir dari manusia yang berakhlak.

Pedoman Hidup Tri Falaq Tunggallistik merupakan suatu konsepsi sistem kehidupan yang berlandaskan keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta kearifan adat budaya luhur Nusantara sebagai fondasi pembangunan manusia dan peradaban yang berkeadilan. Konsep ini menempatkan manusia sebagai makhluk yang berahklak dan bermoral serta spiritual, sistem pedoman hidup manusia Tri Falaq Tunggallistik akan memaksa dan mengendalikan hawa nafsu mahkluh buas bernama manusia demi terciptanya keadilan berprikemanusiaan dan kembali kepada konsep dasar penciptaan manusia oleh Tuhan yang Maha Esa. Dalam perspektif ini, keadilan tidak dapat ditegakkan hanya melalui kehendak individu, melainkan harus diwujudkan melalui suatu sistem dan nilai yang mengikat seluruh lapisan masyarakat tanpa membedakan gama suku dan golongan.

Sebagai insan yang beriman, berwawasan kebangsaan, berjiwa Pancasila, serta menjunjung tinggi nilai-nilai adat Nusantara, Sistem Pedoman Hidup Tri Falaq Tunggallistik dapat dipahami sebagai landasan fundamental dalam membentuk kehidupan manusia yang adil, beradab, dan berketuhanan. Sistem ini menegaskan bahwa manusia yang dikuasai oleh hawa nafsu tidak akan mampu menegakkan keadilan secara utuh. Oleh karena itu, keadilan hanya dapat diwujudkan melalui penetapan suatu sistem yang bersifat mengikat, berlaku universal, serta ditaati oleh setiap individu tanpa memandang ruang, waktu, maupun kedudukan sosial.

Dalam kehidupan masyarakat yang berlapis dan bertingkat, keadilan harus ditegakkan secara proporsional dengan tetap berlandaskan nilai kemanusiaan dan keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa—Tuhan semesta alam, bukan Tuhan yang dibatasi oleh sudut pandang kelompok, golongan, ataupun fanatisme sempit. Dalam kerangka berpikir ini, keberadaan sistem hukum adat sebagai pemersatu memiliki peran yang sangat strategis untuk dilestarikan, dikembangkan, dan diwujudkan secara nyata dalam bentuk yang lebih modern dan profesional.

Lebih lanjut, Pedoman Hidup Tri Falaq Tunggallistik memiliki urgensi sebagai berikut:

  • Sebagai Pengarah dan Penuntun Kehidupan
    Pedoman ini berfungsi sebagai arah, penuntun, serta instrumen dalam menata kehidupan manusia di berbagai aspek, agar selaras dengan kehendak Allah SWT, sehingga tercapai keselamatan hidup di dunia dan akhirat.
  • Berlandaskan Kesempurnaan Penciptaan Manusia
    Konsep ini digali dari struktur dan sistem kerja tubuh manusia sebagai makhluk ciptaan Allah SWT yang paling mulia dan sempurna dibandingkan makhluk lainnya, serta selaras dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an dan kitab-kitab suci lainnya.
  • Sebagai Konsepsi Dasar Kehidupan Universal
    Pedoman ini mampu menjadi dasar konseptual, pola pikir, falsafah hidup, serta arah pandang manusia dalam memimpin, mengendalikan, dan mengorganisir kehidupan, baik secara individu maupun kolektif—meliputi kehidupan berumah tangga, berorganisasi, berteknologi, berbudaya, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara—guna mencapai kesempurnaan hidup yang harmonis dan berkesinambungan, serta keselamatan dunia dan akhirat.

 

Kita sadari bersama serta mengingat semakin melemahnya tatanan moral dan etika dalam kehidupan bermasyarakat, yang ditandai dengan meningkatnya kemiskinan, kelaparan, kebodohan, bulying, tawuran pelajar, korupsi yang merajalela serta maraknya tindakan kekerasan dan penganiayaan di berbagai tempat yang sebagian dipengaruhi oleh masuknya virus budaya luar pada tatanan kehidupan kebangsaan yang tidak selaras dengan nilai-nilai luhur bangsa Nusantara serta adat budaya lokal maka diperlukan upaya nyata untuk membangun kembali fondasi budaya yang kuat, berkarakter, dan beradab yang dijiwai manunggalnya keimanan dan kemanusiaan demi terwujudnya cita-cita luhur para pejuang kusuma bangsa yang telah berkorban jiwa raga, harta benda serta nyawa demi kebahagiaan anak cucunya.

Dalam rangka menjawab tantangan tersebut, Sistem Pedoman Hidup Tri Falaq Tunggallistik menekankan penguatan dan pengembangan budaya sebagai berikut:

  • Pengembangan budaya berpikir kritis dan kreatif, guna melahirkan ilmuwan, intelektual, dan pemikir baru yang mampu memberikan solusi bagi kemajuan bangsa.
  • Pengembangan budaya kerja keras, disiplin, dan produktif, sebagai landasan dalam mewujudkan kesejahteraan individu maupun masyarakat.
  • Pengembangan budaya religius, yaitu rajin beribadah, gemar beramal, serta menjunjung tinggi nilai-nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari.
  • Pengembangan budaya ketahanan diri, meliputi kemampuan bela diri, menjaga keharmonisan rumah tangga, serta menumbuhkan semangat bela bangsa.
  • Pengembangan budaya kepemimpinan yang berintegritas, berorientasi pada pengabdian, serta menolak segala bentuk mentalitas “jongos” dan praktik dehumanisasi (pembinatangan manusia).
  • Penumbuhan budaya sistem politik, atau organisasi yang memberikan ruang serta posisi, penghargaan, dan jabatan tugas dan tanggungjawab kepada ahlinya berdasarkan kemampuan, prestasi, kompetensi, dan kinerja individu, bukan atas dasar kekayaan, uang, emas, jabatan, keturunan, atau koneksi KKN, sehingga kepemimpinan dan peran pengendalian kehidupan masyarakat dipegang oleh individu yang memiliki kapasitas, integritas, moralitas tinggi dan tanggung jawab bukan di pegang oleh penguasa atau pejabat yang tidak punya kapasitas keilmuan tidak sesuai bidangnya, tidak berintegritas, tak bermoral yang hanya memikirkan diri pribadi, kelompok partainya sendiri karena menjadi pejabat, penguasa di pilih dengan cara voting dan undian.
  • Perlu ditinggalkan budaya ikut-ikutan, sikap sok tahu, iri, dengki, sirik dendam, dan keengganan untuk malas belajar serta malas berfikir, dengan mendorong membangun kesetiaan, berbakti, berbudi pekerti adab sopan santun, keterbukaan berpikir kritis, kerendahan hati, serta semangat untuk terus bertanya dan memperbaiki diri dengan tetap mengedepankan manunggalnya keimanan dan kemanusiaan.

Berikutnya saya akan jelaskan tentang perhitungan tahun Nusantara  sebagai  salah satu Identitas Kebangsaan Nusantara Sebagai Berikut :