a) Pelemahan Moral & Penundukan: Nilai kebaikan digeser oleh kejahatan, rasa takut disebar melalui ketidakpastian hukum, premanisme di tingkat bawah dipelihara, dan instrumen kekuasaan dipakai untuk membungkam daya kritis rakyat.
b) Labirin Penyesatan Ideologi: Rakyat diadu domba dalam perdebatan ‘isme’ yang dangkal—Nasionalis melawan Sosialis, Agamis membenturkan Komunis, Konservatif bergesekan dengan Liberalis, hingga masyarakat terjebak dalam perangkap Pragmatisme dan Individualisme. Panggung konflik identitas ini sengaja dipelihara agar fokus rakyat teralih.
c) Pembajakan Demokrasi: Melalui pendanaan partai politik dan permainan transaksi pemilu (voting), oligarki menempatkan figur-figur pengabdi modal ke tampuk kekuasaan.
d) Legalitas Perampokan: Penguasa yang telah ditunjuk melahirkan undang-undang dan regulasi yang memberi karpet merah bagi pemodal untuk menguasai Sumber Daya Alam (SDA) dan Sumber Daya Manusia (SDM). Keuntungan berlipat diputar kembali untuk membiayai siklus kekuasaan berikutnya.

Atas dasar kesadaran kritis tersebut, kami menolak menjadi objek permainan dan menyatakan Tujuh Sikap Politik Kebangsaan:

1. Mengenali Musuh Sejati Bangsa
Musuh sejati rakyat bukanlah saudara kita yang berbeda suku, berbeda paham keagamaan, atau berbeda pilihan politik. Musuh sejati kita adalah Sistem Oligarki yang memanfaatkan ketakutan, menjual simbol-simbol identitas, dan merampok sumber daya bangsa demi kepentingan segelintir pemodal.

2. Menghentikan Perang Saudara Sesama Anak Bangsa
Kami menolak diadu domba oleh sekat-sekat ideologi buatan. Kami menghentikan segala bentuk pertikaian antar-sesama rakyat kecil di media sosial maupun di lapangan. Energi rakyat harus disatukan untuk mengawasi kebijakan publik, bukan menghancurkan sesama anak bangsa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *