1. Nama Bangsa: Mengaku sebagai Bangsa Indonesia.
  2. Wilayah Geopolitik: Ber-Tanah Air Indonesia (Namun realitasnya, ini baru mencakup sebagian dari total luas wilayah geopolitik emas Nusantara masa lalu).
  3. Sistem Lingua Franca: Ber-Bahasa Indonesia (Dominan mengadopsi struktur bahasa Melayu serta menyerap kosakata masif dari bahasa Inggris, Arab, Tionghoa, dan Sanskerta).
  4. Sistem Aksara: (KOSONG / TIDAK MEMILIKI). Kita masih meminjam dan bergantung total pada aksara Amerika Latin, Arab gundul, atau huruf asing lainnya.
  5. Sistem Penanggalan: (KOSONG / TIDAK MEMILIKI). Kita mengekor pada penanggalan Eropa (Masehi), Arab (Hijriah), atau Tionghoa (Imlek).
  6. Siklus Tahun Baru: Tidak memiliki jangkar waktu yang jelas akibat tumpang tindihnya perayaan tahun baru (Masehi, Hijriah, Imlek) tanpa ada tahun baru asli milik peradaban sendiri.
  7. Karakteristik Budaya: Dominan berbudaya campuran (hybrid culture) tanpa ada pilar pembeda yang murni mencerminkan orisinalitas bangsa.
  8. Identitas Visual Veksilologi (Bendera): Menggunakan warna Merah-Putih (Secara visual memiliki kemiripan mutlak dengan bendera Kerajaan Monako).
  9. Karakteristik Busana: Mengalami amalgamasi total antara jubah/gamis Arab, baju koko Tionghoa, hingga celana denim/jeans Amerika.
  10. Struktur Administrasi: Bentuk negara kesatuan tanpa adanya pembagian entitas negara bagian yang merepresentasikan kemandirian suku-suku purba Nusantara.

E. Gugatan Logika: Sebuah Refleksi Kebangsaan

Dari fakta-fakta otopsi budaya di atas, muncul rentetan pertanyaan ilmiah yang sangat mendasar dan wajib kita jawab sebagai kaum intelek terpelajar: